<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rekomendasibuku Arsip - Bimbel Pandu</title>
	<atom:link href="https://bimbelpandu.com/Terkait/rekomendasibuku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Menuju yang terbaik</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Aug 2024 19:15:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2023/08/cropped-Backup_of_LOGO-PANDUaa-32x32.png</url>
	<title>rekomendasibuku Arsip - Bimbel Pandu</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rekomendasi Buku Hari Sabtu: Cerita-cerita Kolonial dari Teh dan Pengkhianat</title>
		<link>https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-cerita-cerita-kolonial-dari-teh-dan-pengkhianat/</link>
					<comments>https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-cerita-cerita-kolonial-dari-teh-dan-pengkhianat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amaliya Khamdanah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Aug 2024 12:11:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[bimbeldemak]]></category>
		<category><![CDATA[bimbelpandu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasibuku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bimbelpandu.com/?p=3773</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teh dan Pengkhianat adalah karya selanjutnya yang akan direkomendasikan untuk Teman-teman Bimbel Pandu. Teh dan Pengkhianat adalah karya Iksaka Banu yang terbit di Penerbit KPG pada tahun 2019 dengan tebal 164 halaman. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek. Kamu bisa membeli di toko buku, online-store, atau membaca melalui aplikasi perpustakaan digital. Cerpen-cerpen pada buku ini [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-cerita-cerita-kolonial-dari-teh-dan-pengkhianat/">Rekomendasi Buku Hari Sabtu: Cerita-cerita Kolonial dari Teh dan Pengkhianat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bimbelpandu.com">Bimbel Pandu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="682" src="https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/08/Gambar-WhatsApp-2024-08-09-pukul-01.44.52_b3d129d8-1024x682.jpg" alt="" class="wp-image-3774" srcset="https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/08/Gambar-WhatsApp-2024-08-09-pukul-01.44.52_b3d129d8-1024x682.jpg 1024w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/08/Gambar-WhatsApp-2024-08-09-pukul-01.44.52_b3d129d8-300x200.jpg 300w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/08/Gambar-WhatsApp-2024-08-09-pukul-01.44.52_b3d129d8-150x100.jpg 150w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/08/Gambar-WhatsApp-2024-08-09-pukul-01.44.52_b3d129d8-768x512.jpg 768w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/08/Gambar-WhatsApp-2024-08-09-pukul-01.44.52_b3d129d8.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>sumber foto: gramedia[dot]com</em></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Teh dan Pengkhianat adalah karya selanjutnya yang akan direkomendasikan untuk Teman-teman Bimbel Pandu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teh dan Pengkhianat adalah karya Iksaka Banu yang terbit di Penerbit KPG pada tahun 2019 dengan tebal 164 halaman. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek. Kamu bisa membeli di toko buku, <em>online-store</em>, atau membaca melalui aplikasi perpustakaan digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerpen-cerpen pada buku ini menggunakan sudut berbeda, yaitu <em>pov</em> orang Belanda. Banyak orang berkulit putih pada masa itu memandang pribumi sangat rendah, namun, ada juga yang sebaliknya, ada yang memandang secara setara. Pada cerita berjudul Kalabaka, misalnya. Namanya Hendrieck Cornelis Adam atau Driek, seorang tentara Belanda yang dipindahtugaskan ke Banda yang saat itu terkenal dengan hasil pala. Pikir Driek, tugas yang diemban sangat mulia, namun, yang terjadi malah pertumbahan darah. Dalam riwayat sejarah, dikenal dengan genosida VOC di Banda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Driek dalam surat untuk anak laki-lakinya menyebut, “Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian. Ya, VOC adalah mesin perang yang paling haus darah yang pernah ada di muka bumi ini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterkejutan tokoh Belanda terhadap pribumi tidak berhenti pada satu cerita saja, tetapi pada cerita tiruan bumi kembali hadir. Kapal milik kapten Van de Vlek membawa pesanan globe raksasa. Namun dalam perjalanannya, sang kapten menemui hambatan. Hambatan tersebut memicu perdebatan panjang dengan seorang pendeta. Khusus cerpen ini menyinggung tentang agama dan ilmu pengetahuan. Perdebatan sengit, tetapi yang paling mengejutkan adalah dibalik pemesan globe raksasa, yaitu seorang Mangkubumi dari Kerajaan Gowa, bernama Karaeng Pattingalloang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerpen Belenggu Emas juga tak kalah membuat terpukau. Dikisahkan dua orang wanita Belanda diam-diam datang mengunjungi rumah seorang pribumi. Mereka penasaran dengan kabar burung yang beredar tentang rumah itu, konon menyimpan puluhan buku dalam beberapa bahasa seperti Melayu, Arab, dan Belanda serta koran-koran dan kain-kain tenun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cornellia pada suatu dialog, “Bukan hal aneh menjumpai pemandangan semacam itu di ruang tamu para pejabat Belanda. Tetapi saat ini aku tengah berada di dalam sebuah bangunan yang jauh dari karamaian kota, milik seorang bumiputra. Tepatnya, seorang wanita bumiputra.” Rumah pribumi yang dimaksud adalah Roehana Koeddoes pencetus Sekolah Kerajinan Amai Setia sekaligus surat kabar bernama <em>Soenting Melajoe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerpen-cerpen lain dalam buku Teh dan Pengkhianat sangat menarik dan sayang dilewatkan. Seperti pada <em>Sang Raja</em>, Iksaka Banu menuliskan cerita-cerita penuh riset, namun mengalir dan rinan, sehingga mudah dipahami. Teman-teman Bimbel Pandu akan diajak turut serta dalam setiap cerita. Tidak heran ketika membaca buku kumcer ini, rasanya cepat sekali selesai dan akan membuat kamu penasaran dengan latar belakang cerpen tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga belas cerpen akan menemanimu menikmati weekend dengan membuka pintu masa lalu. Cerpen-cerpen yang ada pada buku Teh dan Pengkhianat memuat sejarah Bangsa Indonesia yang hampir luput dalam pandangan.</p>
<p>Artikel <a href="https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-cerita-cerita-kolonial-dari-teh-dan-pengkhianat/">Rekomendasi Buku Hari Sabtu: Cerita-cerita Kolonial dari Teh dan Pengkhianat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bimbelpandu.com">Bimbel Pandu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-cerita-cerita-kolonial-dari-teh-dan-pengkhianat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rekomendasi Buku Hari Sabtu: Novel Sang Raja, Kudus, dan Kretek Lintas Zaman</title>
		<link>https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-novel-sang-raja-kudus-dan-kretek-lintas-zaman/</link>
					<comments>https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-novel-sang-raja-kudus-dan-kretek-lintas-zaman/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amaliya Khamdanah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jul 2024 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[bimbeldemak]]></category>
		<category><![CDATA[bimbelpandu]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasibuku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bimbelpandu.com/?p=3552</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teman-teman Bimbel Pandu pasti sudah tidak asing lagi dengan Kudus dan julukan sebagai Kota Kretek. Menilik kembali ke masa lampau tentang Kudus dan kretek yang ternyata telah melekat dan saling berkaitan. Diyakini sosok Haji Djamhari dari Kudus sebagai peracik pertama kretek untuk mengobati sakit sesak napas yang diderita, sekitar tahun 1800-an. Namun, apakah Teman-teman Bimbel [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-novel-sang-raja-kudus-dan-kretek-lintas-zaman/">Rekomendasi Buku Hari Sabtu: Novel Sang Raja, Kudus, dan Kretek Lintas Zaman</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bimbelpandu.com">Bimbel Pandu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image aligncenter size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-3553" srcset="https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99-1024x683.jpg 1024w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99-300x200.jpg 300w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99-150x100.jpg 150w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99-768x512.jpg 768w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99-1536x1024.jpg 1536w, https://bimbelpandu.com/wp-content/uploads/2024/07/Gambar-WhatsApp-2024-07-19-pukul-14.35.33_59d56a99.jpg 1599w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Sumber foto: Gramedia[dot]com</em></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Teman-teman Bimbel Pandu pasti sudah tidak asing lagi dengan Kudus dan julukan sebagai Kota Kretek. Menilik kembali ke masa lampau tentang Kudus dan kretek yang ternyata telah melekat dan saling berkaitan. Diyakini sosok Haji Djamhari dari Kudus sebagai peracik pertama kretek untuk mengobati sakit sesak napas yang diderita, sekitar tahun 1800-an. Namun, apakah Teman-teman Bimbel Pandu tahu ada nama lain yang berhasil melambungkan kretek di kancah nasional pada masa itu? Iksaka Banu menuliskan dalam novel berjudul Sang Raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang Raja merupakan novel karya Iksaka Banu yang terbit pada tahun 2017 di Penerbit KPG dengan tebal 383 halaman. Sayangnya novel berkover dengan ilustrasi blangkon ini mulai sulit ditemukan di pasaran toko buku. Namun, Teman-teman Bimbel Pandu bisa membaca melalui aplikasi baca Gramedia Digital dan <em><a href="https://bimbelpandu.com/membaca-buku-gratis-melalui-ipusnas/">iPusnas</a></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang Raja merupakan novel bergenre <em>history-fiction</em> berlatar tahun 1900-1962. Menggunakan dua sudut pandang sebagai orang pertama dan ketiga serba tahu. Tidak bisa dipungkiri jika akan sedikit membingungkan bab pertama, tapi, tidak akan mengurangi esensi cerita. Setiap peralihan penggunaan sudut pandang akan ada keterangan. Di sisi lain, Iksaka Banu berhasil membuat pembaca langsung hanyut dalam narasi hening dan sendu dari sisa rintik hujan di atas tanah perkabungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bardiman Sapari seorang wartawan dari Matahari Timur hadir dalam perkabungan. Ada alasan lain mengapa dia rela berdesak-desakan dalam suasana sendu. Baginya momen itu tidak akan terulang, apalagi orang-orang penting itu hadir dengan suasana berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sigareteen Fabriek ‘M. Nitisemito’</em> atau NV Nitisemito merupakan nama perusahaan milik Nitisemito yang terkenal dengan produk rokok kretek Tjap Bal Tiga. NV Nitisemito berlokasi di Kudus, tepatnya di <em>Jongenstraat</em>, Langgardalem, dan Jati, Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah perjalanan Nitisemito dan Tjap Bal Tiga disampaikan melalui dua tokoh yang disebut dalam narasi sebagai <em>‘seorang pria Jawa dengan surjan lurik cokelat hitam, kain bermotif kawung, serta blangkon Yogya dan seorang pria berkulit putih berbaju safari dengan topi pandan berwarna gading’</em> yaitu bernama Goenawan Wirosoeseno dan Filipus Gerardus Rechterhand. Dua sudut pandang <em>aku</em> yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Mereka bukan dari Kudus, melainkan pendatang. Filip seorang Belanda totok yang lahir di Batavia dan Wirosoeseno seorang pribumi Jawa yang lahir di Yogyakarta. Mereka bertemu secara tidak sengaja dalam percakapan sepintas tentang <em>kalium nitrat</em> yang digunakan sebagai bahan penghasil asap untuk melengkapi <em>patung orang merokok</em> yang diletakkan di pintu masuk Divisi Keuangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut penuturan Wiro dan Filip, NV Nitisemito mengalami jatuh bangun berulang kali, dari masa Hindia Belanda, serangan flu Spanyol, tragedi Perang Dunia II, <em>zaman meleset</em>, kedudukan Jepang, penutupan sementara pabrik yang melanggar aturan pemerintah, sampai hal yang paling mengagetkan dan menyedihkan adalah tergerogoti perlahan dari dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di masa Hindia Belanda, Tjap Bal Tiga berada di posisi paling atas yang dipemimpin pribumi. Dikabarkan NV Nitisemito memperkerjakan buruh sampai ribuan. Tidak salah jika Ratu Belanda saat itu menyebut Nitisemito yang memiliki nama kecil Roesdi bin Soelaiman sebagai <em>De Kretekkoning</em> atau Sang Raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Nitisemito tercatat sebagai pribumi yang pernah memperkenalkan produk kretek melalui penyewaan pesawat Fokker F.VIIb bernomor punggung PK-AFC untuk media promosi ke Jawa Barat, Batavia, dan Soerabaya, bahkan ikut serta meramaikan acara di tempat-tempat strategis dengan sistem tukar hadiah dengan bungkus Tjap Bal Tiga, menggandeng rombongan stamboel, membuat gedung bioskop rakyat dan saluran radio bernama <em>Koedoes Radio Vereeninging Bal Tiga</em>, sampai memasukkan lokasi pabrik dalam film. Cara-cara seperti ini memang sudah biasa jika terjadi di masa sekarang. Namun, NV Nitisemito telah memulainya sejak dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">NV Nitisemito dalam setiap peralihan zaman selalu ada hal <em>besar </em>terjadi, berdampak positif dan negatif. Melalui penuturan Wiro dan Filip, Tjap Bal Tiga masih mampu berdiri gagah. Bisa dilihat jelas ketika dampak Perang Dunia II dan Jepang menduduki Indonesia pada masa itu. Namun, tidak bisa dipungkiri, layaknya pohon yang daun dan ranting mulai berguguran dan tergerogoti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat Kudus di masa lampau melalui novel Sang Raja memang pilihan tepat, walaupun, tidak semua lokasi terjamah dalam novel. Setidaknya pembaca bisa merasakan; bagaimana orang-orang zaman dulu berinteraksi, mengunjungi panggung hiburan yang terletak di alun-alun kota, transportasi sepeda menjadi barang mewah, atau saling jatuh suka lewat sorotan mata dan tersipu malu. Kemudian bangunan-bangunan yang masih identik dengan <em>londo</em>, seperti yang dilakukan Nitisemito, mengkolaborasikan seni-seni yang sempat dipelajarinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Aku melihat lampu gantung, penyekat ruangan, lemari buku, kursi, dan meja kerja yang digarap dengan campuran antara unsur-unsur pokok Nieuwe Kunst, Cina, dan elemen tradisional Jawa. “Aku suka selera senimu, Tuan.” Kataku pada Tuan Poolman—seorang akuntan yang bekerja di NV Nitisemito yang kelak jadi rekan kerja di bagian Akuntansi—kemudian Poolman menjawab, “Bukan aku. Sejak aku masuk, benda-benda itu sudah ada di sini. Nitisemito memang pandai menggabungkan banyak unsur seni. Indah. Tidak seperti rumah seorang parvenue (orang kaya baru) pada umumnya.”</em>(101-102).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peninggalan dari Nitisemito masih bertahan sampai saat ini adalah Rumah Kembar yang terletak di dekat Kali Gelis, Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada novel Sang Raja digambarkan reaksi para pribumi bersorak-sorai di kanan kiri jalan menyambut kedatangan tentara Jepang. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama. Banyak yang terjadi sebaliknya, termasuk lingkungan NV Nitisemito yang salah satu lokasi pabrik dijadikan markas terntara Jepang secara paksa. Tidak berhenti sampai disitu, kejadian serupa kembali terulang ketika Belanda kembali menginjakkan kaki di Indonesia, tetapi pada saat itu NV Nitisemito meminjamkan salah satu lokasi pabrik untuk markas TNI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Membaca novel bergenre <em>history-fiction</em>, Sang Raja akan membuat perasaan dan pikiran pasang surut, tapi melalui narasi yang ditulis Iksaka Banu tidak terasa tergesa. Mendekati <em>epilog</em>, pembaca akan dibawa pada kegiatan ringan khas bapak-bapak pensiunan zaman dulu, salah satunya; empat orang mantan karyawan NV Nitisemito berkunjung ke <em>ndalem</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pak Niti yang <em>sampun sepuh</em>. Seperti roda sepeda yang bergerak, pembaca akan merasa ikut memutar kisah per kisah yang dituturkan Wiro dan Filip pada bab-bab sebelumnya, menemui satu titik pusat. Pak Niti tengah duduk di kursi roda, di belakangnya ada pewaris NV Nitisemito, Soemadji.<em>“Lha, itu. Apik. Semangat!” Pak Niti mengacungkan kepalan tangan ke dada. Tak lama, Pak Niti meminta Mas Soemadji mendorong kursi roda ke pintu depan agar beliau bisa melihat kepergian kami berempat. Sampai jauh, kami masih melihat tangan beliau melambai-lambai.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-novel-sang-raja-kudus-dan-kretek-lintas-zaman/">Rekomendasi Buku Hari Sabtu: Novel Sang Raja, Kudus, dan Kretek Lintas Zaman</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bimbelpandu.com">Bimbel Pandu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bimbelpandu.com/rekomendasi-buku-hari-sabtu-novel-sang-raja-kudus-dan-kretek-lintas-zaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
